BATAM — Pendidikan organizing yang digelar DPW FSPMI Kepulauan Riau di Batam menyoroti ancaman penurunan jumlah anggota secara signifikan dalam dua dekade mendatang. Nur Yasin, S.H., Vice President DPP FSPMI yang bertindak sebagai fasilitator training, mengungkapkan bahwa tanpa kaderisasi yang konsisten, basis massa serikat pekerja bisa tergerus hingga 40 persen pada 2040.
Menurut Nur Yasin, penyusutan itu tidak disebabkan oleh pemutusan hubungan kerja (PHK) atau penutupan perusahaan. Faktor utamanya adalah gelombang pensiun massal anggota yang mayoritas bergabung sekitar tahun 2012.
Gelombang Pensiun Massal Mengancam Basis Massa Serikat Pekerja
“Rata-rata anggota memasuki masa pensiun, berdasarkan data yang dihimpun, booming-nya anggota masuk ke organisasi sekitar tahun 2012 dan di tahun 2040 sudah masuk masa pensiun, otomatis anggota akan berkurang,” ujar Nur Yasin di hadapan peserta training di Batam.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pengurus di tingkat provinsi hingga cabang. Tanpa strategi rekrutmen yang terukur, kekuatan tawar serikat buruh di hadapan perusahaan dan pemerintah akan melemah seiring menyusutnya jumlah anggota.
Endurance Kader Jadi Tantangan Terbesar di Lapangan
Nur Yasin mengakui bahwa proses organizing bukan pekerjaan mudah. Turun ke lapangan, mengajak pekerja bergabung, hingga mengorbankan waktu dan biaya adalah konsekuensi yang harus dihadapi kader. Namun, ia menyayangkan masih banyak kader yang tidak bertahan lama.
“Memang ini berat tetapi memang harus dilakukan, turun ke lapangan, mengajak orang, banyak waktu terbuang, dan juga tekor. Yang paling disayangkan terkadang endurance tidak bertahan lama, hanya sekitar 2 tahun,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses menabur kaderisasi tidak boleh berhenti. Kegagalan di sebagian kader bukan alasan untuk menghentikan upaya, karena pertumbuhan organisasi bergantung pada keberanian untuk terus mencoba.
Serikat Pekerja Butuh Anggota Baru untuk Jaga Nilai Tawar
“Karena serikat buruh adalah berbasis massa atau anggota, jadi ketika tidak ada anggota maka tidak ada nilai tawar,” tegas Nur Yasin.
Ia berharap pendidikan organizing ini mampu melahirkan kader-kader yang tangguh dan memiliki daya juang tinggi. Pondasi organisasi yang kuat hanya bisa dibangun jika seluruh elemen pengurus dan anggota berkomitmen untuk terus melakukan kaderisasi secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial.
“Kalau kita tidak menabur, apakah akan tumbuh belum tentu. Maka harapannya semua orang bisa bertumbuh walau dalam kajian kita tidak banyak yang jadi, karena banyak faktor,” tutupnya.