BATAM — Abbas, warga Pulau Karas, sudah dua tahun tidak lagi melaut. Pria keturunan Melayu ini kini lebih sering berada di darat, merawat puluhan kolam terpal berisi ribuan ekor lele dan nila di tengah kawasan hutan.
"Sekarang sudah tidak ada kepikiran ke laut lagi," katanya beberapa waktu lalu.
Keputusan itu diambil setelah bertahun-tahun menanggung ketidakpastian hasil tangkapan. Jarak tempuh melaut yang jauh, biaya operasional besar, dan risiko tinggi membuat pekerjaan itu semakin tidak menjanjikan.
Omzet Pokdakan Anak Karas Kecil Capai Rp12 Juta Sekali Panen
Di atas lahan setengah hektare, 30 kolam terpal berjajar rapi. Sebanyak 22 kolam digunakan untuk pembesaran lele secara tradisional, sisanya untuk nila. Lokasinya sengaja dipilih jauh dari permukiman, di balik rerimbunan pohon.
Hasil panen lele dijual kepada pengepul di Sembulang. Dengan harga jual Rp24.000 per kilogram, Abbas dan kawan-kawannya bisa mengantongi hingga Rp12 juta dalam sekali panen. Setelah dipotong biaya pakan dan operasional, sisa pendapatan dipakai untuk kebutuhan keluarga.
"Insya Allah sudah mencukupi," ujar Abbas.
Keahlian budi daya ikan air tawar ini didapat Abbas setelah belajar di Tanjung Balai Karimun dan Bintan. Ilmu itu kemudian dibagikan kepada anggota kelompok lainnya di Pulau Karas.
Bantuan Bioflok dari KKP: Nila Ternyata Lebih Rumit dari Lele
Pada akhir 2025, Pokdakan Anak Karas Kecil menerima delapan kolam bioflok dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk budi daya nila. Namun, sistem yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai pendaur ulang limbah ini ternyata jauh lebih menantang dibanding pembesaran lele tradisional.
"Pada awal-awal banyak yang mati karena bibitnya terlalu kecil, kira-kira 3 sampai 4 centimeter," kata Abbas.
Bibit yang terlalu kecil berisiko keracunan karena kondisi fisiknya belum siap menoleransi air dalam kolam bioflok. Berbeda dengan lele yang sudah lama ditekuni, sistem ini menuntut kelompok untuk terus menjaga kualitas air dan keseimbangan mikroorganisme.
Evaluasi Dinas Perikanan Batam: Air Kolam Masih Cokelat, Flok Rendah
Ketika tim Dinas Perikanan Batam berkunjung pada Mei 2026, Kepala Dinas Yudi Admajianto menilai kondisi kolam bioflok belum sesuai harapan. Air terlihat cokelat dan beberapa ikan mati mengambang. Kolam bioflok yang sehat seharusnya memiliki air berwarna hijau tua, menandakan gumpalan organik (flok) berkembang baik.
Hasil pemeriksaan menunjukkan produksi flok masih sangat rendah. Akibatnya kualitas air menurun, pertumbuhan ikan melambat, dan berisiko menyebabkan kematian. Perbaikan kondisi diperkirakan memakan waktu sekitar dua bulan.
Meski demikian, panen perdana nila tetap akan dilakukan. Dari delapan kolam yang masing-masing berisi 700-800 ekor, hasil panen diperkirakan mencapai 60-70 kilogram per kolam. Dengan harga Rp28.000 hingga Rp35.000 per kilogram, Abbas dan kelompoknya berpotensi menerima Rp13 juta sampai Rp19 juta.
Yudi Cari Pengepul yang Mau Jemput ke Pulau Karas
Yudi mengaku sedang mencari pengepul yang bersedia membeli hasil panen langsung di Pulau Karas. Lokasi yang jauh dari pusat kota membuat biaya pengiriman ikan menjadi tinggi. Jika ada pengepul yang menjemput, biaya bisa ditekan dan keuntungan pembudidaya lebih besar.
Permintaan ikan air tawar di Batam sendiri terbilang tinggi. Lele, nila, dan patin menjadi komoditas utama dengan kebutuhan 5-8 ton per hari. Angka itu meningkat hingga 10 ton di akhir pekan ketika wisatawan datang.
Tingginya permintaan ini membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat pesisir tanpa harus bergantung pada hasil laut. Bagi Abbas, laut yang dulu menjadi ladang penghidupan kini berganti dengan kolam-kolam terpal yang dirawat setiap hari.