KEPULAUAN RIAU — Ford kembali mencoba peruntungan di segmen kendaraan listrik. Kali ini lewat Fathom, pikap kompak yang membawa filosofi baru perusahaan. Harganya agresif: jauh di bawah rata-rata harga mobil baru di Amerika Serikat yang mencapai US$ 50.000, dan rata-rata EV yang menyentuh US$ 56.000. Bahkan, banderol ini sekitar US$ 5.000 lebih murah dari rata-rata harga di segmen pasar terbesar dealer.
Secara dimensi, Fathom masuk kategori truk pikap kompak. Segmen ini sempat diabaikan pasar hingga Ford Maverick hadir pada 2021. Maverick mencatat penjualan 155.000 unit tahun lalu—angka yang sehat, namun belum fenomenal. Sebagai pembanding, Taurus pada puncak kejayaannya di 1992 mampu menjual dua kali lipat lebih banyak.
Meski demikian, Fathom punya keunggulan dibanding Maverick. Ruang kabinnya diklaim lebih lega, dan yang paling menarik: adanya frunk atau bagasi depan yang lazim pada mobil listrik. Fitur ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna sedan yang selama ini enggan beralih ke pikap karena minimnya ruang penyimpanan tertutup.
Persoalan utama Fathom bukan hanya harga atau spesifikasi, melainkan preferensi pasar. Data Cox Automotive menunjukkan lebih dari 70% calon pembeli di AS mencari SUV, sementara peminat pikap hanya sekitar 33%. Artinya, Fathom harus berjuang keras merebut hati konsumen yang belum tentu membutuhkan truk.
Dari sisi desain, Fathom juga belum menunjukkan karakter kokoh yang biasanya dicari penggemar pikap. General Motors dalam presentasi terbaru bahkan secara spesifik menyebut pentingnya menghadirkan truk dengan posisi berkendara lebih tinggi sesuai permintaan pelanggan. Tampilan Fathom yang terlihat dari teaser sejauh ini belum memperlihatkan kesan tangguh untuk medan berat.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah penerimaan terhadap teknologi baterai. Mayoritas pembeli masih nyaman dengan mesin bensin, dan banyak dealer yang belum sepenuhnya siap mendorong penjualan EV. Meski pengguna EV cenderung tidak akan kembali ke mobil konvensional, kelompok ini masih minoritas.
Menariknya, kegagalan menjadi blockbuster mungkin bukan target utama Ford. Fathom bisa menjadi langkah awal untuk menguji proses produksi dan platform Universal EV. Dengan permintaan yang stabil di segmen truk kompak, Ford bisa menyempurnakan platform ini sebelum akhirnya diterapkan pada model SUV yang punya pasar jauh lebih besar.
Dengan harga US$ 29.945 (sekitar Rp 494 juta), Fathom diposisikan sebagai EV termurah di kelasnya. Namun, keputusan pembelian konsumen tidak pernah semata-mata berdasarkan angka. Ford kemungkinan akan mengeluarkan versi dengan tampilan lebih gagah untuk menarik segmen penggemar pikap, plus investasi besar untuk pelatihan dealer dan pemasaran.
Pada akhirnya, Fathom mungkin bukan "pukulan grand slam" yang diharapkan Ford. Namun jika platform Universal EV ini terbukti mumpuni, model berikutnya yang berbasis arsitektur sama—kemungkinan besar sebuah SUV—akan menjadi andalan Ford berikutnya untuk bersaing dengan pabrikan China yang kini mendominasi pasar kendaraan listrik global.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran Fathom masih sekadar wacana. Namun arah strategi Ford ini patut diperhatikan, karena bisa menjadi indikator bagaimana pabrikan asal Detroit itu akan memetakan lini produk listriknya di masa depan, termasuk potensi kehadirannya di pasar Asia Tenggara.