KEPULAUAN RIAU — Empat legenda Manchester United dan Arsenal membuka cerita masa lalu jelang laga persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (10/10). Ryan Giggs, Rio Ferdinand, Robert Pires, dan Gilberto Silva mengungkap insiden perkelahian di lorong stadion yang tak pernah terekam kamera.
Konferensi pers di SUGBK, Jumat (9/10), berubah menjadi sesi bernostalgia panas. Keempatnya mengenang rivalitas Man Utd dan Arsenal yang berlangsung puluhan tahun, termasuk momen-momen yang tak terlihat kamera.
Ferdinand Buka Suara soal Perkelahian di Lorong Old Trafford
Rio Ferdinand memulai dengan cerita yang jarang terdengar publik. Ia menyebut ada satu momen di lorong Old Trafford yang luput dari liputan media.
"Sebenarnya ada satu momen tetapi kalian tidak pernah melihatnya. Itu terjadi di lorong Old Trafford saat ada perkelahian," kata Ferdinand.
Gilberto Silva langsung menimpali. Gelandang asal Brasil itu menegaskan insiden tersebut tidak terjadi sekali.
"Tentu saya ada di sana, bahkan ada dua perkelahian," ucap Gilberto.
Bukan Sekali, Ferdinand Sebut Highbury Juga Panas
Ferdinand menambahkan, lorong stadion menjadi lokasi rutin ketegangan antara kedua kubu. Kamera tidak berada di sana, sehingga insiden itu hanya tersimpan di ingatan para pemain.
"Ada banyak perkelahian di lorong. Hanya saja, kamera tidak berada di sana sehingga kalian tidak melihatnya. Termasuk di Highbury antara Patrick [Vieira] dan Roy [Keane], itu gila," ujar Ferdinand.
Bagi Ferdinand, momen seperti itu justru memperkuat rasa hormat antar pemain. Ketegangan di lapangan tidak terbawa keluar setelah peluit panjang.
Pires Tertawa Mengenang Insiden Pizza dan Perkelahian
Robert Pires punya cara berbeda mengenang era tersebut. Baginya, rivalitas itu bagian tak terpisahkan dari perjalanan karier profesional.
"Kalau melihat video-video itu sekarang, terkadang saya tertawa. Namun, itu memang bagian dari rivalitas kami," tuturnya.
Pires juga menyebut insiden pizza yang dilempar di lorong Old Trafford sebagai salah satu kenangan yang melekat. Setelah pertandingan, para pemain bisa membicarakannya dengan santai.
"Setelah pertandingan, kami bisa membicarakan kejadian tersebut, seperti perkelahian atau insiden ketika ada pizza yang dilempar," ia menambahkan.
Giggs Heran Lihat Pemain Modern Berpelukan Sebelum Laga
Ryan Giggs menyoroti perbedaan mencolok antara rivalitas dua dekade lalu dan sekarang. Ia mengaku sulit memahami kebiasaan pemain masa kini yang berpelukan sebelum pertandingan dimulai.
"Sekarang, kami sulit memahami ketika menonton pertandingan dan melihat para pemain saling berpelukan sebelum laga dimulai. Dahulu, kami biasanya hanya saling menyapa. Sekarang, semua orang berpelukan sebelum pertandingan. Bagi kami, itu terasa aneh," kata Giggs.
Meski begitu, Giggs menegaskan rasa hormat tetap ada di antara kedua kubu. Mereka tahu menghadapi pemain dan tim yang berkualitas.
"Dahulu, kami tidak menyukai satu sama lain, tetapi tetap saling menghormati karena tahu bahwa kami menghadapi pemain dan tim yang bagus. Setelah pertandingan, kami berjabat tangan, mengucapkan selamat atas pertandingan yang bagus, lalu pergi. Kami tidak benar-benar ingin mengenal satu sama lain lebih jauh," ia melanjutkan.
Duel di GBK Jadi Ajang Reuni Rivalitas Panas
Laga persahabatan di SUGBK menjadi kesempatan langka menyaksikan para legenda kembali berkumpul. Kehadiran mereka di Jakarta disambut antusias penggemar sepak bola Indonesia.
Bagi Giggs, Ferdinand, Pires, dan Gilberto, duel ini bukan sekadar pertandingan. Ini pengingat bahwa rivalitas Man Utd dan Arsenal pernah mencapai titik didih yang tak mudah dilupakan.