KEPULAUAN RIAU — PT Remitra Global International Tbk (MKNT) mengkaji masuk ke sektor energi terbarukan sebagai diversifikasi usaha, dengan empat opsi pembangkit listrik yang sedang ditelaah. Perusahaan menegaskan belum ada keputusan investasi dan seluruh rencana perlu persetujuan pemegang saham serta otoritas pasar modal.
Direktur Utama Remitra Global International Santoso Widjojo menyatakan perseroan tengah mengamati peluang di sektor energi terbarukan, namun belum menetapkan arah investasi. Kajian itu mencakup pembangkit listrik tenaga air (PLTA), tenaga surya (PLTS), tenaga panas bumi (PLTPB), dan pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).
Empat Opsi Pembangkit yang Sedang Ditelaah
Keempat jenis pembangkit itu masih berada pada tahap pengamatan dan penelaahan internal. Manajemen menegaskan belum ada kepastian bahwa kajian tersebut akan berujung pada realisasi investasi, termasuk soal waktu dan hasilnya.
"Saat ini kami sedang mengkaji sektor energi terbarukan, dan belum ada keputusan investasi. Kami memahami bahwa melangkah ke bidang baru adalah keputusan besar bagi pemegang saham. Karena itu, apabila kelak perseroan memperluas usaha ke sektor ini, langkah tersebut akan kami jalankan sesuai ketentuan pasar modal dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku, dengan alokasi modal yang terukur demi meningkatkan nilai bagi pemegang saham," kata Santoso dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).
Dua Bisnis yang Sudah Berjalan
Remitra Global saat ini berdiri di atas dua lini usaha yang telah beroperasi. Lini pertama adalah manufaktur baja struktural untuk proyek konstruksi berbagai skala di Indonesia, yang dijalankan sejak 2008. Lini kedua adalah budi daya udang air payau melalui anak usaha.
Bisnis baja grup dimulai dari produksi billet berkapasitas 100.000 ton per tahun, lalu digandakan dalam dua tahun. Penerapan teknologi rolling mill pada 2012 disusul penambahan kapasitas 20% pada 2014, sehingga kapasitas terpasang mencapai 300.000 ton per tahun pada 2025. Pabriknya berdiri di atas lahan 6 hektare di dalam kompleks seluas 9 ha di Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, Banten, dengan lebih dari 550 tenaga kerja terlatih.
Di sisi budi daya udang, anak usaha perseroan mengelola tambak air payau di Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Tambak produktif saat ini menempati lahan 27,72 ha dengan luas kolam 12,18 ha yang terbagi dalam tiga blok. Perseroan juga bermitra dengan petambak dan masyarakat pesisir melalui penyediaan lapangan kerja, pelatihan, dan program berkelanjutan.
Peta Keuangan Grup Sebelum dan Setelah PMTHMETD
Paparan publik digelar untuk menyampaikan kondisi grup dan rencana setelah pelaksanaan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Manajemen memaparkan sejumlah angka kunci sebagai berikut:
- Pendapatan tahun buku 2025: lebih dari Rp 900 miliar
- Total aset sebelum PMTHMETD: sekitar Rp 1.300 miliar
- Jumlah karyawan grup: lebih dari 600 orang
- Total aset proforma setelah PMTHMETD: Rp 1.604,5 miliar
- Liabilitas proforma: Rp 628,0 miliar
- Ekuitas proforma: Rp 976,5 miliar
- Rasio liabilitas terhadap ekuitas proforma: 0,64 kali
Manajemen menekankan angka proforma tersebut bersifat indikatif dan bukan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit.
Agenda RUPSLB dan Perubahan Status Holding
Perseroan berencana memperluas kegiatan usaha dari salah satu anak usahanya untuk mencakup kegiatan usaha holding pada Oktober 2026. Setelah itu, Remitra Global menjadwalkan RUPSLB penyesuaian kegiatan usaha pada November hingga Desember 2026.
Seluruh langkah tersebut tunduk pada persetujuan pemegang saham dan otoritas yang relevan sesuai peraturan yang berlaku. Bagi investor, urutan agenda ini menjadi penanda kapan arah diversifikasi usaha perseroan bakal terlihat lebih jelas.
Siapa di Balik Keputusan Remitra Global
Jajaran Komisaris MKNT terdiri dari Handoyo Setiawan sebagai Presiden Komisaris, M. Idrus Marham sebagai Komisaris, dan Erry Firmansyah sebagai Komisaris Independen. Di jajaran Direksi, Santoso Widjojo menjabat Direktur Utama dan Jehuda Ebenhaezer Winata sebagai Direktur.
Dengan komposisi bisnis yang masih bertumpu pada baja dan udang, rencana masuk ke energi terbarukan menjadi ujian bagi manajemen dalam menjaga disiplin alokasi modal. Santoso menyatakan perluasan usaha ke sektor baru akan dijalankan dengan alokasi modal yang terukur, sejalan dengan kepatuhan pada ketentuan pasar modal dan keterbukaan informasi.