KEPULAUAN RIAU — Toby Alderweireld menilai generasi emas Belgia pantas mendapat kredit lebih besar atas pencapaian mereka di Piala Dunia 2018. Bek veteran itu menyebut laga melawan Brasil di perempat final sebagai salah satu pertandingan terbaik sepanjang kariernya.
Belgia menutup fase grup Piala Dunia 2018 di Rusia dengan catatan sempurna. Tiga kemenangan atas Panama, Tunisia, dan Inggris membuat mereka mengoleksi sembilan poin tanpa kebobolan satu gol pun di Grup G. Sembilan gol yang mereka cetak menjadi yang terbanyak di fase grup, dengan Eden Hazard dan Romelu Lukaku tampil tajam.
Perjalanan di babak gugur nyaris berakhir lebih cepat. Melawan Jepang di babak 16 besar, Belgia tertinggal 0-2 di awal babak kedua sebelum bangkit dan menang 3-2 lewat gol Nacer Chadli di menit ke-94. Kemenangan dramatis itu membawa mereka ke perempat final melawan Brasil di Kazan.
Laga Melawan Brasil Jadi Puncak Karier Alderweireld
Di perempat final, Belgia mengalahkan Brasil 2-1 dan mencetak sejarah lolos ke semifinal Piala Dunia untuk kedua kalinya. Pencapaian sebelumnya terjadi pada 1986. Bagi Alderweireld, pertandingan itu punya makna tersendiri karena ia berhadapan langsung dengan Neymar.
“Mereka selalu bilang generasi emas kami tidak pernah menang di laga besar, lalu pertandingan melawan Brasil itu luar biasa,” kata Alderweireld kepada FourFourTwo.
“Kami punya laga sulit melawan Jepang di babak 16 besar, kami tertinggal 2-0, tapi tetap menang. Di perempat final melawan Brasil, saya berhadapan dengan Neymar yang sedang di puncak permainannya. Dia di kiri dan saya bermain sebagai bek tengah kanan dalam formasi tiga bek. Tapi dia tidak mencetak gol, dia tidak berbahaya. Itu salah satu pertandingan terbaik saya sepanjang karier dan perasaan yang luar biasa bisa mengalahkan Brasil dan melaju,” ujarnya.
Berhenti di Semifinal, Ditutup dengan Medali Perunggu
Langkah Belgia terhenti di semifinal setelah kalah 1-0 dari Prancis, yang kemudian menjadi juara. Mereka menutup turnamen dengan medali perunggu usai mengalahkan Inggris di perebutan tempat ketiga.
Bagi Alderweireld, pencapaian itu tetap bersejarah bagi sepak bola Belgia. Ia menilai timnya saat itu termasuk yang bermain paling menarik di turnamen tersebut.
“Itu bersejarah untuk Belgia. Kalau Anda pikirkan tim mana yang bermain paling bagus di Piala Dunia itu, kami ada di jajaran atas,” ucapnya.
“Saya akan selalu punya perasaan seperti ‘Kami layak mendapat sedikit lebih banyak’.”
Belgia saat itu diperkuat nama-nama seperti Thibaut Courtois, Vincent Kompany, Jan Vertonghen, Kevin De Bruyne, dan Eden Hazard. Meski tak pernah meraih trofi mayor, generasi tersebut disebut-sebut sebagai salah satu yang paling difavoritkan di dunia pada akhir dekade 2010-an.