NATUNA — Penanaman pohon yang digelar TNI Angkatan Darat di Natuna menyasar dua titik sekaligus. Halaman Kantor Bupati Natuna dan kawasan Kota Tua Penagi, Kelurahan Batu Hitam, menjadi lokasi yang dipilih. Keduanya mewakili ruang publik yang selama ini menjadi wajah kota.
Letkol Inf. Reymond Hermawan Sitanggang menyebut kegiatan itu sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Penanaman bukan sekadar seremoni peringatan HUT ke-81 TNI. Ada pesan lebih panjang yang ingin disampaikan lewat bibit-bibit yang masuk ke tanah.
Mengapa Natuna Menjadi Titik Penting Penghijauan
Natuna berada di kawasan utara Indonesia, gugusan pulau yang dikelilingi laut dan berbatasan langsung dengan negara tetangga. Hutan, pepohonan, laut, dan terumbu karang di wilayah itu saling terhubung dalam satu sistem alam.
Vegetasi di Natuna berperan menjaga tata air, mengurangi erosi, dan menyediakan habitat bagi berbagai makhluk hidup. Pohon juga menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Dalam konteks yang lebih luas, kawasan hijau sering disebut sebagai paru-paru dunia karena perannya menopang keseimbangan atmosfer.
Karena itu, setiap pohon yang tumbuh di Natuna punya arti lebih besar daripada sekadar batang dan daun. Ia menjadi investasi ekologis jangka panjang bagi wilayah perbatasan.
Pesan Komandan: Jangan Biarkan Pohon Ditanam Lalu Dilupakan
Letkol Inf. Reymond Hermawan Sitanggang menitipkan satu pesan penting dalam kegiatan tersebut. Penanaman tidak boleh berhenti saat bibit selesai dimasukkan ke lubang tanah.
"Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Pohon sudah ditanam harus kita rawat dan pelihara bersama sehingga nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat," ujarnya.
Tantangan lingkungan tidak selesai ketika bibit masuk ke dalam tanah. Justru setelah itu perjuangan dimulai. Pohon harus disiram, dijaga, dilindungi, dan diberi kesempatan untuk tumbuh.
Masyarakat juga diminta memiliki rasa memiliki terhadap ruang hijau di sekitarnya. Sebab pohon yang ditanam hari ini mungkin baru memberikan manfaat besar ketika orang-orang yang menanamnya sudah tidak lagi berada di tempat itu.
Karya Bakti TNI AD dan Peran Masyarakat Natuna
Gerakan penanaman sejuta pohon memperlihatkan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak selalu hadir dalam bentuk pembangunan fisik. Kadang, pengabdian itu sederhana: menggali tanah, menanam bibit, menyiramnya, lalu memastikan pohon tetap hidup.
TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat memiliki ruang yang sama untuk mengambil bagian dalam menjaga lingkungan. Tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah atau aparat. Masyarakat menjadi bagian penting dari rantai perlindungan lingkungan.
Menjaga kebersihan, tidak menebang pohon sembarangan, mempertahankan kawasan hijau, dan menanam kembali pohon yang hilang merupakan tindakan sederhana. Jika dilakukan bersama-sama, dampaknya bisa besar.
Harapan untuk Generasi Natuna yang Belum Lahir
Natuna adalah rumah bagi manusia sekaligus rumah bagi berbagai makhluk hidup lainnya. Ketika ruang hijau dijaga, kehidupan mendapatkan ruang untuk bertahan. Ketika hutan dirawat, air dan tanah ikut terlindungi.
Letkol Inf. Reymond Hermawan Sitanggang berharap gerakan tersebut mampu menumbuhkan kesadaran bersama warga Natuna.
"Semoga melalui kegiatan ini tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan. Apa yang kita lakukan hari ini mungkin manfaatnya tidak langsung kita rasakan, tetapi akan dirasakan oleh generasi akan datang," katanya.
Pohon yang ditanam di halaman Kantor Bupati Natuna dan Kota Tua Penagi bukan hanya milik mereka yang menanam. Ia milik masyarakat, milik anak-anak Natuna, dan menjadi bagian kecil dari upaya menjaga bumi tetap memiliki napas.