Pencarian

Ekspor Industri Pengolahan Tembus US$159,55 Miliar sampai Agustus 2026

Senin, 05 Oktober 2026 • 12:35:02 WIB
Ekspor Industri Pengolahan Tembus US$159,55 Miliar sampai Agustus 2026
Ekspor industri pengolahan nonmigas mencapai US$159,55 miliar pada Januari-Agustus 2026.

KEPULAUAN RIAU — Nilai ekspor industri pengolahan nonmigas Indonesia mencapai US$159,55 miliar pada Januari-Agustus 2026, setara 82,40% dari total ekspor nasional. Kontribusi sektor ini naik dari posisi 80% pada periode yang sama tahun lalu, seiring total ekspor Indonesia yang tumbuh 4,74% secara kumulatif.

Industri pengolahan nonmigas menjadi tulang punggung ekspor nasional dengan nilai US$159,55 miliar. Angka itu melampaui capaian Januari-Agustus 2025 yang sebesar US$147,91 miliar, sekaligus menaikkan porsinya dari 80% menjadi 82,40% dari total ekspor.

Industri Pengolahan Kuasai 82,40% Ekspor Nasional

Kenaikan kontribusi industri pengolahan menegaskan pergeseran struktur ekspor Indonesia dari komoditas mentah ke produk bernilai tambah. Pemerintah memang mendorong hilirisasi mineral dan komoditas lain lewat larangan ekspor bahan mentah serta insentif pengolahan di dalam negeri.

Berikut rincian nilai ekspor per sektor berdasarkan laporan BPS:

  • Industri pengolahan nonmigas: US$159,55 miliar (82,40% dari total ekspor) pada Januari-Agustus 2026, naik dari US$147,91 miliar (80%) pada periode sama 2025
  • Migas: US$8,01 miliar atau 4,14% dari total ekspor
  • Total nonmigas: US$185,63 miliar atau 95,86% dari total ekspor
  • Total ekspor keseluruhan: US$193,64 miliar, tumbuh 4,74% secara kumulatif

Migas Tetap Kecil, Nonmigas Jadi Penopang

Porsi migas yang cuma 4,14% menunjukkan ketergantungan ekspor Indonesia pada sektor ini makin tipis. Sebaliknya, nonmigas yang mencakup 95,86% total ekspor menempatkan industri pengolahan, pertanian, dan pertambangan olahan sebagai penentu arah kinerja dagang ke depan.

Bagi pelaku usaha, tren ini membuka ruang ekspansi di sektor pengolahan yang mendapat dukungan kebijakan hilirisasi. Namun ketergantungan pada pasar tradisional seperti China, Amerika Serikat, dan Jepang tetap menjadi risiko jika permintaan global melemah.

Yang Perlu Dicermati Investor dan Eksportir

Pertumbuhan ekspor 4,74% secara kumulatif masih positif, tetapi laju ini perlu dibandingkan dengan target pemerintah dan proyeksi Bank Indonesia. Pelemahan harga komoditas serta ketidakpastian tarif dagang dari mitra utama bisa menggerus capaian hingga akhir tahun.

Investor yang memegang saham emiten berbasis ekspor, terutama di sektor industri pengolahan dan barang konsumsi olahan, perlu mencermati rilis data ekspor bulanan BPS berikutnya. Arah kontribusi industri pengolahan akan jadi indikator awal apakah hilirisasi benar-benar mengubah struktur ekspor atau hanya menggeser komposisi jangka pendek.

Follow www.kepriline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: databoks.katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks