Pencarian

Kegagalan Malaysia ke Final ASEAN Cup Picu Konten Rasis ke Indonesia

Senin, 05 Oktober 2026 • 10:10:01 WIB
Kegagalan Malaysia ke Final ASEAN Cup Picu Konten Rasis ke Indonesia
Warganet Indonesia dan Malaysia beradu komentar di media sosial setelah Timnas Indonesia lolos ke final ASEAN Cup 2026.

KEPULAUAN RIAU — Timnas Indonesia memastikan tiket ke final FIFA ASEAN Cup 2026, sementara Malaysia tersingkir meski menang 6-0 atas Singapura. Kekecewaan itu meluas ke media sosial lewat unggahan bernada rasis dan provokatif terhadap Indonesia. Sejumlah konten yang menghapus wilayah Indonesia hingga merendahkan pahlawan nasional ramai diperbincangkan warganet.

Malaysia dan Indonesia sama-sama mengoleksi tujuh poin di Grup A dengan selisih gol +9. Garuda unggul produktivitas gol, 11 berbanding sembilan, sehingga berhak melaju ke final. Harimau Malaya sebenarnya menang telak 6-0 atas Singapura pada laga terakhir, tetapi hasil itu tidak cukup.

Peta Tanpa Indonesia dan Candaan soal Pahlawan

Sejumlah unggahan bernada provokatif dari warganet Malaysia beredar dan dikumpulkan ulang oleh akun X @SatirNesia. Salah satu yang ramai disorot menampilkan peta Asia Tenggara dengan wilayah Indonesia dihilangkan.

"Hidup berdampingan dengan negara-negara lain tanpa perlu sibuk bergaduh atau cari pasal," tulis akun tersebut sembari menyertakan bendera Malaysia.

Unggahan itu memancing respons warganet Indonesia. Ada yang membalasnya dengan mengingatkan posisi geografis Pulau Sumatera ketika tsunami Samudra Hindia menerjang pada 2004.

"Pulau yang engkau hapus tu sudah menjadi buffer zone raksasa yang menahan, meredam, dan membelokkan sebagian besar energi gelombang tsunami," tulis seorang warganet.

Perlu dicatat, klaim bahwa Sumatera secara langsung menahan sebagian besar energi tsunami 2004 merupakan penyederhanaan dan tidak disertai sumber ilmiah dalam unggahan tersebut.

Unggahan lain memperlihatkan uang pecahan Rp10.000 bergambar pahlawan nasional Frans Kaisiepo. Penampilan Kaisiepo dalam uang tersebut dibandingkan dengan karakter Thanos dari Marvel.

"Dah la Malaysia jom kita balik. Diorang ada Thanos do," tulis akun tersebut.

Siapa Frans Kaisiepo

Warganet Indonesia kemudian menjelaskan siapa sosok yang berada di uang Rp10.000 itu. Frans Kaisiepo adalah pahlawan nasional asal Papua dan tokoh penting dalam sejarah integrasi Papua ke Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Internasional Frans Kaisiepo di Biak.

"Ya betul, itu Thanos kami. Nama dia Frans Kaisiepo, pahlawan nasional dari Papua," tulis seorang pengguna Threads.

Reaksi Warganet Indonesia

Rangkaian unggahan tersebut jadi perbincangan warganet. Sebagian menyoroti bahwa merendahkan pahlawan nasional dan bendera negara tidak bisa ditoleransi.

"Parah kali sampai bawa bawa pahlawan. Secara gak langsung udah malah jatuhnya kayak rasi," kata @mimosmei_bigwin.

"Dari kemarin gak ikut nimbrung dgn keributan ini. Kali ini aku udh sebel banget gak bisa ditoleransi kalo udh menghina sosok penting kek pahlawan. Mana ada merendahkan bendera merah putih jga, gila bener tingkahnya!" tulis @sakiaa01.

Ada pula yang menilai persaingan sepakbola tidak seharusnya melebar ke isu ras dan sejarah. "Cuma gara gara bola baper nya kemana mana. Indonesia ini cuma lolos doang ke final lho bukan juara tapi netizen Malaysia ini udah pada ngamuk dan bahas kemana mana," kata @Hari_shevchenko.

Klaim Balasan dari Warganet Malaysia

Sejumlah warganet Malaysia mengungkap postingan berbau rasis ini sebagai balasan dari unggahan sejenis yang dilakukan netizen Indonesia. Salah satunya yang mengedit foto salah satu sultan asal Negeri Jiran.

"Too much???? Kalian yg edit FOTO sultan kami duluan... Trus kalau sampai mainan kalian adalah sultan apa itu baik2 saja?????? Sultan lho sultan bukan perdana menteri / presiden," kata @HisPunya.

"Well u make fun of our sultan the one who protect our religion and our country, so? whos in the wrong. We don`t argue about football first, u guys did become weirdly possessed in stadium and suddenly bash our footballers not enough u did to our Agong," tulis @iliyabasyar.

Aturan Platform dan Batas Perdebatan

Persaingan sepakbola semestinya tidak menjadi pembenaran untuk membawa-bawa ras, etnis, maupun asal negara. X sendiri melarang serangan terhadap seseorang atau kelompok berdasarkan ras, etnis, dan asal negara, termasuk penghinaan yang merendahkan serta konten dehumanisasi.

Bagi pelaku bisnis digital dan investor startup, insiden ini memperlihatkan betapa cepat rivalitas olahraga berubah menjadi konten yang berisiko melanggar kebijakan platform. Moderasi konten berbasis AI dan tim trust and safety menjadi semakin relevan di pasar Indonesia dan Malaysia yang jumlah pengguna media sosialnya besar.

Follow www.kepriline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks