Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong pembangunan fasilitas penyimpanan bahan bakar minyak baru di Provinsi Kepulauan Riau untuk memperkuat cadangan energi di luar kebutuhan operasional harian. Anggota DEN dari unsur pemangku kepentingan, Muhammad Kholid Syeirazi, menilai kondisi geografis Kepri yang memiliki banyak pulau kecil sangat potensial untuk pembangunan storage tersebut. Saat ini baru ada satu storage yang beroperasi di Tanjung Uban, Kabupaten Bintan.
TANJUNGPINANG — Muhammad Kholid Syeirazi menyampaikan dorongan pembangunan fasilitas penyimpanan BBM dan minyak mentah di Kepulauan Riau saat berada di Tanjungpinang. Ia menekankan bahwa kapasitas cadangan energi nasional perlu ditingkatkan di luar cadangan operasional yang selama ini tersedia.
Menurut Kholid, Kepri punya keunggulan geografis berupa banyak pulau kecil yang bisa dimanfaatkan untuk membangun storage. Keberadaan fasilitas penyimpanan dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan energi dalam negeri.
"Kalau ingin meningkatkan energi, kita harus punya fasilitas penyimpanan BBM di luar cadangan operasional," kata Kholid di Tanjungpinang, Jumat.
Satu Storage Beroperasi di Tanjung Uban, Karimun Menyusul
Saat ini baru terdapat satu storage yang beroperasi di wilayah Kepri, tepatnya di Tanjung Uban, Kabupaten Bintan. Fasilitas tersebut dikelola PT Pertamina, dan DEN mendorong agar storage itu disewakan kepada pemerintah untuk penyimpanan cadangan energi.
Selain di Bintan, dalam waktu dekat juga direncanakan pembangunan storage di Kabupaten Karimun. Proyek tersebut akan melibatkan investor luar negeri asal Dubai.
Kholid berharap pembangunan storage di Karimun segera terealisasi sebagai upaya meningkatkan ketahanan cadangan energi nasional, khususnya di sektor BBM maupun minyak mentah.
Kapasitas Cadangan BBM Indonesia Baru 21-25 Hari
Kholid membandingkan kapasitas penyimpanan BBM Indonesia dengan sejumlah negara. Singapura memiliki fasilitas storage dengan kapasitas setara 60 hari, sementara Indonesia berada di kisaran 21 sampai 25 hari.
Idealnya, kapasitas penyimpanan cadangan BBM di negara-negara maju sekitar 90 hari. Dengan kapasitas sebesar itu, ketika terjadi gangguan pasokan energi, negara masih bisa bertahan paling tidak tiga bulan.
"Minyak yang dibor itu tidak semuanya untuk kebutuhan konsumsi harian, tapi juga digunakan buat menjaga energi, yang kemudian dilepas dalam kondisi krisis BBM atau darurat energi," demikian Kholid.
Butuh Rp47 Triliun untuk Cadangan 30 Hari
Storage bisa dibangun oleh pemerintah maupun swasta. Kholid menilai idealnya memang dibangun pemerintah agar punya kendali penuh, misalnya ketika kehabisan BBM, cadangan energi yang tersimpan tinggal dilepas.
Kholid mengakui dengan kondisi fiskal saat ini, tidak mudah bagi pemerintah membangun storage karena anggaran yang dibutuhkan relatif besar. Untuk kapasitas penyimpanan BBM setara 30 hari, diperlukan anggaran sekitar Rp47 triliun.
"Maka itu ada berbagai opsi dan model pembangunan storage, termasuk berkolaborasi dengan swasta. Jadi yang bangun swasta lalu disewakan ke pemerintah," ujar dia.