Pencarian

Listrik PLN 24 Jam Menyala di Desa Patialo, 108 Keluarga Lepas Lampu Teplok

Selasa, 29 September 2026 • 12:36:31 WIB
Listrik PLN 24 Jam Menyala di Desa Patialo, 108 Keluarga Lepas Lampu Teplok
Warga Desa Patialo, Mandailing Natal, kini menikmati listrik PLN selama 24 jam melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Kementerian ESDM.

KEPULAUAN RIAU — Sebanyak 108 kepala keluarga di Desa Patialo, Mandailing Natal, Sumatera Utara, kini menikmati listrik PLN selama 24 jam penuh melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Kementerian ESDM. Selama bertahun-tahun, warga desa di balik perbukitan itu hanya mengandalkan lampu teplok dan listrik swadaya dari kincir air. Masuknya pasokan listrik stabil membuka peluang baru bagi pendidikan anak, akses internet, hingga aktivitas ekonomi warga.

Desa Patialo terletak sekitar 7 kilometer dari jalan utama Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal. Selama ini, medan berbukit dan akses jalan yang terbatas membuat wilayah tersebut sulit dijangkau jaringan listrik negara. Warga pun bertahun-tahun mengandalkan penerangan seadanya begitu malam tiba.

Perubahan baru datang setelah program BPBL dari Pemerintah melalui Kementerian ESDM menjangkau desa tersebut. Listrik PLN kini mengalir stabil ke 108 kepala keluarga, menggantikan lampu teplok dan jaringan listrik swadaya yang pasokannya kerap terputus.

Belajar di Bawah Cahaya Lampu Teplok

Kisah Asmaul Husna, putri asli Patialo, menggambarkan betul beratnya keterbatasan itu. Ia sempat harus berjuang ekstra saat mengikuti pembelajaran daring untuk persiapan kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, karena pasokan energi dan jaringan internet sering mati.

"Dulu, kami belajar membaca dan berhitung menggunakan lampu teplok. Setelah ada listrik dari kincir air (PLTMH), kami mulai bisa memakai wifi, tapi jaringannya sering terputus-putus, apalagi saat saya harus belajar lewat Zoom," tutur Husna.

Guru Ngaji Desa Patialo, Nurlina Lubis, merasakan hal serupa. Saat listrik belum tersedia, ia mengajar anak-anak mengaji hanya dengan lampu pelita. Ketika minyak tanah habis, kegiatan belajar terpaksa berhenti.

"Dulu ngaji di sini pakai lampu teplok. Kalau mati lampu atau minyak tanah habis, anak-anak jadi tidak bisa mengaji lagi. Mereka sedih," ujar Nurlina.

Harapan Baru bagi Pekebun Kayu Manis

M. Jamil Lubis, pekebun kayu manis lokal, menyambut gembira kehadiran listrik PLN. Menurutnya, desanya kini bisa berdiri setara dengan wilayah lain di Indonesia.

"Sebagai warga Desa Patialo, saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah yang telah membantu sehingga listrik PLN bisa masuk ke desa kami," ujar Jamil.

Bupati Mandailing Natal, Saipullah Nasution, menilai pasokan energi yang stabil menjadi fondasi utama bagi warga untuk merencanakan peningkatan kesejahteraan dan mengembangkan potensi lokal.

"Pertama, tentu kami mengucapkan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang telah menginstruksikan kepada Kementerian ESDM untuk menghadirkan listrik seluruh Indonesia. Ini adalah program Pak Presiden yang langsung dijabarkan oleh Menteri ESDM, Pak Bahlil, beliau langsung merespon kegiatan ini dengan adanya listrik ini dan sudah menyala secara stabil, maka kehidupan masyarakat sudah bisa merencanakan kegiatan-kegiatan ekonomi," ungkap Saipullah.

Komitmen PLN di Wilayah 3T

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan penyediaan akses listrik merupakan fondasi utama dalam mendorong kemajuan masyarakat. Menurutnya, listrik membuka akses pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, menggerakkan ekonomi lokal, dan meningkatkan kualitas hidup.

"Kami percaya bahwa listrik merupakan fondasi pembangunan yang mampu membuka akses pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, menggerakkan ekonomi lokal, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, PLN akan terus menjalankan amanah Pemerintah untuk menghadirkan listrik yang andal hingga ke pelosok negeri agar semakin banyak masyarakat dapat menikmati manfaat pembangunan secara merata," tutur Darmawan.

Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri, menyampaikan bahwa medan berbukit dan akses jalan terbatas di Desa Patialo tidak menjadi penghalang. Justru tantangan geografis itu mendorong personel PLN menyiapkan perencanaan teknis yang matang.

"Membangun jaringan distribusi di wilayah seperti Desa Patialo adalah wujud komitmen PLN untuk hadir di tengah masyarakat. Medan berbukit dan akses jalan yang terbatas tidak menjadi penghalang, melainkan pendorong bagi seluruh personel PLN untuk memberikan upaya terbaik dan perencanaan teknis yang matang," ujar Arsyadany.

PLN berencana terus memperluas jangkauan jaringan distribusi ke desa-desa yang belum menikmati akses listrik penuh, sejalan dengan program pemerintah mewujudkan pemerataan akses energi nasional.

"Kehadiran listrik di Desa Patialo bukan sekadar menerangi rumah warga, tetapi menghadirkan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk beraktivitas dan berkarya. Kami akan terus memperluas jangkauan jaringan distribusi ke wilayah-wilayah yang belum terlistriki, sehingga manfaat listrik dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat di seluruh pelosok negeri," pungkas Arsyadany.

Bagi 108 keluarga di Patialo, nyala listrik 24 jam bukan sekadar soal terang. Anak-anak kini bisa belajar lebih leluasa, akses internet tidak lagi putus-nyambung, dan warga mulai menata rencana ekonomi dari hasil kebun kayu manis mereka.

Follow www.kepriline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: medcom.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks