Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mendukung pemanfaatan teknologi seawater reverse osmosis (SWRO) guna memenuhi kebutuhan air industri pusat data di Batam, Kepulauan Riau, tanpa mengganggu pasokan air masyarakat dari waduk. Dukungan itu sejalan dengan langkah Badan Pengusahaan (BP) Batam yang mendorong pelaku industri membangun fasilitas SWRO secara mandiri. BP Batam memproyeksikan fasilitas di KEK Nongsa dan kawasan industri Kabil menambah kapasitas produksi air sekitar 750 liter per detik pada tahap awal dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
BATAM — Kebutuhan air untuk operasional pusat data di Batam diproyeksikan naik tajam seiring bertambahnya proyek di kawasan ekonomi khusus. Berdasarkan pemetaan BP Batam pada September 2026, terdapat 10 rencana pengembangan pusat data di Batam dengan satu di antaranya telah beroperasi. Kapasitas teknologi informasi (IT) yang telah beroperasi, komitmen investasi, dan rencana pengembangan secara keseluruhan mencapai 1,47 gigawatt (GW).
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai teknologi SWRO dapat menjadi solusi memenuhi kebutuhan operasional pusat data tanpa membebani pasokan air masyarakat dari waduk. Menurut dia, perencanaan yang jelas memungkinkan kedua kebutuhan itu berjalan berdampingan.
"Investasi harus berjalan bersama tanggung jawab. Kebutuhan air pusat data harus disiapkan dengan baik, termasuk melalui SWRO," kata Iftitah dalam keterangannya yang diterima di Batam, Kepri, Jumat.
BP Batam memproyeksikan pembangunan fasilitas SWRO di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa dan kawasan industri Kabil menambah kapasitas produksi air sekitar 750 liter per detik pada tahap awal dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Kapasitas tersebut direncanakan meningkat menjadi sekitar 1.000 liter per detik pada tahap berikutnya. Tambahan kapasitas itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri tanpa mengurangi pasokan air waduk bagi masyarakat.
Iftitah menyampaikan dukungan tersebut sejalan dengan langkah BP Batam yang mendorong pembangunan fasilitas SWRO secara mandiri oleh pelaku industri pusat data. "Dengan perencanaan yang jelas, kita bisa menjaga kebutuhan masyarakat sekaligus memberi ruang bagi tumbuhnya industri baru," ujarnya.
Di sisi pasokan air baku, Tinggi Muka Air (TMA) Waduk Nongsa berada pada kisaran 5,5 meter di atas permukaan laut atau turun sekitar 4,5 meter dibandingkan kondisi normal. Pada kondisi normal, rata-rata TMA Waduk Nongsa berada di kisaran 10 meter di atas permukaan laut, dan pada kondisi puncak dapat mencapai sekitar 12,7 meter. BP Batam mengalirkan air dari embung di kawasan Kebun Raya Nongsa ke Waduk Nongsa melalui pemasangan pipa interkoneksi agar debit naik bertahap.
"Kami berupaya mendorong debit air di waduk ini agar posisi 5,5 meter ini secara bertahap bisa meningkat. Paling tidak, dengan interkoneksi pipa ini, bisa naik satu atau dua meter," kata Kepala BP Batam Amsakar Achmad dalam keterangan tertulis yang diterima di Batam, Selasa.
Selain mengalirkan air dari embung, BP Batam menyambung pipa 250 milimeter (mm) dan pipa 300 mm sebagai bagian dari sistem interkoneksi. Penyambungan itu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas booster sehingga dorongan air menuju masyarakat lebih optimal. "Kita ingin agar pekerjaan teknis ini bisa cepat selesai sehingga tidak ada lagi keluhan masyarakat," kata Amsakar menambahkan.
Selain kebutuhan air, Iftitah mendukung penguatan pasokan listrik dan infrastruktur penunjang melalui koordinasi antara pemerintah, BP Batam, penyedia energi, serta pelaku usaha. Peningkatan kapasitas pusat data dinilai memerlukan kesiapan infrastruktur energi untuk mendukung pertumbuhan industri di Batam.
Iftitah mengatakan Batam memiliki peluang menjadi salah satu pusat data berskala global karena posisi geografisnya yang strategis dan potensi menarik investasi lanjutan di sektor ekonomi digital serta kecerdasan buatan (AI). Menurut dia, peluang itu perlu didukung ekosistem yang andal, kepastian layanan investasi, dan kesiapan tenaga kerja agar manfaatnya dirasakan masyarakat setempat.
"Kehadiran pusat data bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pekerjaan, keterampilan, dan pendapatan yang lebih baik," katanya.