Gubernur Kepri Ansar Ahmad Gagas Eksplorasi Sejarah Pulau Penyengat Bersama PWI Kepri

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Minggu, 04 Oktober 2026 | 07:31:01 WIB
Gubernur Kepri Ansar Ahmad bersilaturahmi dengan pengurus PWI Kepri di Batam.

BATAM — Kunjungan Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad ke Graha PWI Kepri menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang diskusi soal arah pembangunan daerah. Dalam pertemuan itu, Ansar menegaskan pemerintah daerah membutuhkan dukungan media untuk menyampaikan berbagai program kepada masyarakat.

Ansar membuka ruang bagi PWI Kepri untuk menyampaikan masukan terkait pembangunan. Ia juga memastikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Kepri terbuka terhadap kolaborasi lintas sektor.

Miskomunikasi Pemprov Kepri dan PWI Kepri

Di awal pertemuan, Ansar menyampaikan permohonan maaf atas miskomunikasi yang sempat terjadi antara Pemprov Kepri dan PWI Kepri. Ia menugaskan Sekretaris Daerah Provinsi Kepri untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

"Ini ada miskomunikasi. Tidak ada maksud saya untuk tidak mengindahkan. Setelah saya cek, untuk itu saya menugaskan Ibu Sekda Provinsi," kata Ansar.

Menurut Ansar, pemerintah daerah selama ini bisa berjalan tidak terlepas dari dukungan media. Ia berharap hubungan baik dengan insan pers di Kepri terus terjaga ke depan.

"Pemda selama ini bisa berjalan tidak terlepas dari dukungan media. Oleh karena itu, ke depan kita bisa bersama-sama membangun Kepri," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menjalankan program pembangunan. "Tentunya tangan-tangan saya, para kadis dan antar-OPD, selalu berkolaborasi satu sama lain," katanya.

Pulau Penyengat dan Jejak Kesultanan Riau-Lingga

Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani menilai kunjungan Gubernur Ansar menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus membahas gagasan untuk kemajuan Kepri. Pembicaraan kemudian mengarah pada potensi sejarah dan budaya yang dinilai masih bisa digali lebih luas.

Kehadiran Kepala Dinas Pariwisata Kepri Hasan dalam pertemuan itu membuka diskusi soal pengembangan wisata sejarah dan budaya, termasuk Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang. Bagi Saibansah, Penyengat bukan sekadar destinasi wisata.

Pulau kecil itu pernah menjadi pusat pemerintahan dan kehidupan intelektual Kesultanan Riau-Lingga. Tradisi keilmuan, kesusastraan, dan pemikiran Melayu tumbuh di sana dan meninggalkan jejak yang masih bisa ditelusuri hingga kini.

Salah satu warisan paling dikenal adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Karya itu tidak hanya penting dalam kesusastraan Melayu, tetapi juga berkaitan erat dengan sejarah perkembangan bahasa dan pemikiran Melayu di Nusantara.

Wartawan PWI Kepri Diminta Tulis Feature, Dihimpun Jadi Buku

Saibansah menggagas kunjungan khusus wartawan PWI Kepri ke Pulau Penyengat. Para jurnalis tidak hanya datang menikmati destinasi wisata, tetapi menggali cerita yang tersimpan di balik pulau tersebut.

Mereka didorong menulis Penyengat dalam bentuk feature dengan sudut pandang dan gaya masing-masing. Tulisan itu selanjutnya dapat dihimpun menjadi sebuah buku yang merekam Pulau Penyengat dari perspektif para jurnalis.

"Mahkota seorang jurnalis adalah buku," tegas Saibansah.

Gagasan tersebut mendapat sambutan dari Dewan Pakar PWI Kepri Ramon Damora yang selama ini menaruh perhatian pada seni, budaya, dan sejarah Melayu. Ramon menyoroti kekayaan bahasa Melayu di Kepulauan Riau serta kaitannya dengan perkembangan bahasa Indonesia.

Menurut dia, jejak sejarah perkembangan bahasa Melayu di Kepri perlu terus dikaji dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Ramon juga menyebut Penyengat punya kekayaan literatur dan jejak intelektual yang panjang.

"Perlu ada kajian khusus dan bagaimana Pulau Penyengat semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia bahkan secara global," ujar Ramon.

Ramon saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Seni, Musik, Film dan Budaya dalam struktur kepengurusan PWI Pusat periode 2025-2030.

Gerakan Literasi Menyambut 100 Tahun Sumpah Pemuda 2028

Dari pembicaraan mengenai Penyengat, gagasan berkembang menjadi gerakan literasi dan dokumentasi menyambut 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028. Ramon mengusulkan agar momentum tersebut tidak hanya diperingati secara seremonial.

Ia menilai warisan literatur dan jejak intelektual Pulau Penyengat penting diangkat kembali agar tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah. Menurut dia, warisan itu bisa menjadi pengetahuan yang terus hidup dan dikenal lintas generasi.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Sumber: riaukepri.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top