BATAM — Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyatakan pemerintah memberikan atensi penuh terhadap persoalan banjir di Kota Batam. Empat pekerjaan drainase yang tengah berjalan disebut telah mencapai progres sekitar 60 persen dan ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Keempat pekerjaan itu meliputi normalisasi dan peningkatan drainase Simpang Kepri Mall, drainase Sei Beduk, drainase Jalan R. Suprapto Kawasan Sawang Permai Batu Aji, serta drainase Makam Pahlawan–RS Graha Hermine Batu Aji.
Amsakar menyebut pengerjaan di empat kawasan tersebut sudah menunjukkan hasil. Saat hujan berintensitas tinggi selama sekitar dua jam pada 22 September lalu, kawasan itu tidak mengalami luapan seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.
"Ini menunjukkan pekerjaan yang kita lakukan mulai memberikan dampak. Tetapi pekerjaan harus tetap dituntaskan dan titik-titik lainnya juga harus terus ditangani," ujarnya.
Pemerintah menargetkan seluruh pekerjaan di empat lokasi itu selesai pada akhir 2026. Progres yang sudah berjalan menjadi dasar bagi perluasan penanganan ke titik-titik rawan lainnya.
Kawasan Bengkong Indah Swadebi mendapat perhatian khusus. Pemerintah merumuskan penanganan melalui tiga pekerjaan utama, yakni pembangunan kolam retensi di Cahaya Garden, dua segmen kanal banjir, dan rumah pompa Bengkong di bagian hilir.
Ketiga pekerjaan itu masuk pada tahun anggaran 2027 dan menjadi prioritas untuk dikebut bersama Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan Batam.
"Untuk Bengkong, kita siapkan penanganannya secara lebih menyeluruh. Saya minta Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Sinergi dengan Deputi Infrastruktur menyiapkan ini dengan baik dan matang," jelas Amsakar.
Ia berharap kombinasi kolam retensi, kanal banjir, dan rumah pompa mampu menangani persoalan genangan di kawasan tersebut secara optimal.
Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, menambahkan pihaknya akan terus mengidentifikasi titik-titik rawan banjir dan menentukan penanganan berdasarkan kondisi serta kebutuhan masing-masing kawasan.
"Kami ingin penanganan ini dilakukan secara bertahap tetapi konsisten. Apa yang sudah dikerjakan harus dievaluasi dampaknya, sementara titik lain yang membutuhkan penanganan harus segera ditindaklanjuti," ujarnya.
Li Claudia mengajak seluruh perangkat wilayah melaporkan setiap titik banjir krusial agar penanganan dilakukan sesuai tingkat klasifikasi kerentanan. Setiap perkembangan juga perlu dievaluasi secara konsisten untuk memastikan langkah yang diambil berjalan efektif.
Pemerintah meminta masyarakat turut menjaga fungsi sistem drainase. Warga diimbau tidak membuang sampah ke saluran air dan segera melaporkan bila menemukan saluran tersumbat atau kondisi lain yang berpotensi menimbulkan genangan.
"Tentu dukungan masyarakat sangat penting untuk menjaga drainase dan lingkungan, agar upaya yang dilakukan dapat memberikan hasil maksimal," ucap Li Claudia.
Alokasi anggaran untuk 167 titik prioritas pada 2026 dan 2027 menjadi kerangka kerja BP Batam dan Pemko Batam dalam menuntaskan persoalan banjir di Batam secara bertahap.