KEPULAUAN RIAU — International Documentary Association (IDA) resmi menyerukan pemerintah Israel menghentikan apa yang disebutnya sebagai "kampanye ancaman" terhadap sutradara NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Seruan itu disampaikan lewat surat terbuka yang telah mengumpulkan lebih dari 250 tanda tangan, termasuk aktor Javier Bardem dan Mark Ruffalo. Film dokumenter NAZA sendiri dijadwalkan tayang perdana di Amerika Utara pada New York Film Festival, Sabtu waktu setempat.
Surat terbuka yang dipublikasikan di situs resmi IDA itu menyasar serangkaian langkah pejabat senior Israel pasca kemenangan NAZA di Venice Film Festival. Menteri Kebudayaan Israel menuduh kedua sutradara melakukan pengkhianatan dan berupaya mencabut kewarganegaraan mereka. Perdana Menteri Israel juga mengumumkan rancangan undang-undang yang memungkinkan pencabutan kewarganegaraan bagi siapa pun yang dianggap "mencemarkan nama tentara IDF", sekaligus menaikkan nilai ganti rugi pencemaran nama baik hingga dua puluh kali lipat.
Melalui surat yang ditandatangani Direktur Eksekutif IDA, Dominic Asmall Willsdon, organisasi nirlaba itu menyampaikan tiga tuntutan utama kepada pemerintah Israel. Pertama, menarik ancaman pencabutan kewarganegaraan Abraham dan Szor serta membatalkan rancangan undang-undang yang diajukan. Kedua, menghormati hak jurnalistik para pembuat film untuk menolak mengungkap identitas narasumber rahasia mereka. Ketiga, menolak perubahan pendanaan film publik yang menghukum sineas atas karya kritis atau pengakuan internasional.
"IDA menyerukan pemerintah Israel menarik ancamannya terhadap pembuat film Yuval Abraham dan Rachel Szor," bunyi surat tersebut. "Kami juga menyerukan diakhirinya kampanye intimidasi publik terhadap mereka."
IDA turut mengajak semua pihak yang terlibat dalam debat publik untuk menolak segala bentuk intimidasi terhadap kedua sutradara beserta keluarga mereka.
Dalam suratnya, IDA menegaskan bahwa militer Israel berhak membantah isi film NAZA. Namun sebagai pihak dalam International Covenant on Civil and Political Rights, Israel terikat Pasal 19 yang mensyaratkan pembatasan ekspresi harus diatur undang-undang serta proporsional dengan tujuan yang sah.
Menurut IDA, pencabutan kewarganegaraan, penjatuhan ganti rugi punitif, atau pembukaan investigasi keamanan sebagai respons atas sebuah film dokumenter tidak memenuhi syarat tersebut. Komite Hak Asasi Manusia PBB juga disebut mengakui perlindungan sumber jurnalistik sebagai bagian dari kebebasan berekspresi.
Dukungan terhadap surat IDA datang dari kalangan luas industri film dokumenter. Selain Javier Bardem dan Mark Ruffalo, tercatat peraih Oscar seperti Laura Poitras, Alex Gibney, Roger Ross Williams, Sharmeen Obaid-Chinoy, dan Ezra Edelman. Nama-nama nominasi Oscar turut bergabung, termasuk Liz Garbus, Joe Berlinger, Raoul Peck, dan Kirby Dick.
Mantan direktur Sundance Film Festival, Tabitha Jackson, serta sineas Kirsten Johnson dan Alison Klayman juga masuk dalam daftar penandatangan. Hingga surat itu dipublikasikan, jumlah pendukungnya telah melampaui 250 nama.
NAZA disusun berdasarkan kesaksian 24 perwira dan tentara intelijen militer Israel yang diwawancarai di puncak operasi militer di Gaza. Identitas para personel itu disembunyikan untuk melindungi anonimitas mereka.
Dalam kesaksiannya, para pelapor menyebut adanya pengabaian terhadap nyawa warga sipil Palestina saat IDF memburu target Hamas di wilayah pendudukan. Salah satu pengakuan menyebut IDF menetapkan batas jumlah kematian warga sipil yang dapat diterima dalam serangan terhadap dugaan militan Hamas, bahkan dalam satu kasus mengizinkan hingga 500 kematian warga sipil demi mengejar satu target. IDF, seperti diberitakan Deadline, membantah seluruh tuduhan dalam film tersebut.
Deadline menerima informasi soal rencana demonstrasi menentang NAZA di luar Lincoln Center, New York City, tempat film itu akan diputar. Menurut penyelenggara, mereka berniat menampilkan rekaman terdokumentasi dari peristiwa 7 Oktober, disertai materi yang membantah klaim film.
Namun badai nor'easter yang bergerak di sepanjang pantai timur Amerika Serikat berpotensi mengganggu rencana demonstrasi di luar ruangan tersebut. Hingga kini belum ada keterangan resmi soal apakah aksi itu tetap digelar sesuai jadwal.
Pemutaran NAZA di New York Film Festival menjadi momen penting bagi distribusi film ini di pasar Amerika Utara, sekaligus menguji sejauh mana tekanan politik terhadap para pembuatnya akan memengaruhi penerimaan publik dan industri dokumenter internasional.