KEPULAUAN RIAU — Kritik tajam kembali dilayangkan ke industri game global. Chris Hayes, lead services programmer di id Software (pengembang DOOM dan Quake), menyebut kebijakan PHK massal yang dilakukan Microsoft dan perusahaan besar lainnya sedang menghancurkan fondasi kreativitas yang selama ini menjadi nyawa industri game.
Dalam wawancara dengan kanal YouTube Auf ein Bier akhir bulan lalu, Hayes yang masih berstatus karyawan Microsoft ini menegaskan bahwa pemimpin perusahaan "fundamentally don't understand art" — tidak memahami esensi seni dalam pembuatan game.
Hayes menjelaskan bahwa kualitas sebuah game tidak lahir dari sekadar daftar IP besar atau nama studio terkenal. Justru sebaliknya, kualitas muncul dari akumulasi pengalaman kerja sama antar-developer yang terbangun bertahun-tahun.
"It is our experience together, our working together, and our past experiences that make the studio good," ujar Hayes. Ia menambahkan bahwa membuang separuh developer lalu merekrut orang baru hanya untuk memenuhi target produksi hanya akan menghasilkan "mediocre game" yang akan diketahui semua orang.
Menurut Hayes, pola pikir jangka pendek seperti inilah yang justru tidak dimiliki para pengambil keputusan di perusahaan raksasa saat ini.
Salah satu poin menarik yang diangkat Hayes adalah soal kegagalan. Ketika ZeniMax (induk id Software) diakuisisi Microsoft, salah satu janji besarnya adalah studio-studio di bawah naungan Xbox bisa mengambil risiko kreatif tanpa takut bangkrut jika gagal.
"Failures are important, too. In a bigger umbrella, you can be riskier," kata Hayes. Namun kenyataannya, toleransi terhadap kegagalan itu kini hilang. Padahal, kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar sebuah tim.
"If you make a mistake, that's the last mistake you make as a team. That team is done. So no one's growing, no one's learning," tegasnya. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa studio yang baru saja sukses besar seperti Tango Gameworks dengan Hi-Fi Rush tetap dibubarkan.
Hayes menyoroti bahwa ketika developer tahu mereka akan dipecat begitu game selesai dirilis, mereka berhenti peduli pada masa depan game tersebut. Dedikasi yang dulu menjadi standar industri kini semakin langka.
"When I first started, it was pretty common for everyone to be fully invested in whatever game they're working on. As companies move in this direction, that's less and less common," ungkapnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, Hayes meyakini para gamer sebenarnya sudah merasakan penurunan kualitas ini, meski mungkin tidak bisa mengartikulasikannya secara spesifik.
"A lot of gamers, even if they don't know it, they can feel it's not right. There's something wrong. The industry is not healthy," pungkas Hayes.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlapnya rilisan game AAA dan turnamen esport yang semakin besar, ada masalah struktural yang menggerogoti industri dari dalam. Jika tren PHK massal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin gamer Indonesia yang menikmati game-game global akan semakin sering merasakan produk yang terasa "hambar" — sekadar memenuhi ekspektasi pasar, tapi kehilangan jiwa kreatifnya.