KARIMUN — Peringatan HUT ke-14 Ikatan Wartawan Online (IWO) di Kabupaten Karimun tidak hanya diisi seremoni, tetapi juga aksi nyata berupa penanaman mangrove dan pembagian beasiswa. Kegiatan sosial ini menjadi simbol bahwa pers tak sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga hadir memberi kontribusi bagi masyarakat dan lingkungan.
Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, menyampaikan apresiasi atas perjalanan organisasi wartawan online yang telah menginjak usia 14 tahun. Menurutnya, pemerintah membutuhkan pers sebagai mitra penyampai informasi pembangunan sekaligus penyeimbang melalui fungsi kontrol sosial.
Bupati Iskandarsyah menekankan bahwa kritik dari wartawan tidak perlu dihindari selama disampaikan berdasarkan fakta dan mengedepankan kepentingan masyarakat. "Kritik yang konstruktif justru dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pembangunan daerah," ujarnya, Sabtu (8/8/2026) sore.
Ia berharap IWO semakin profesional, independen, dan mampu memberikan informasi yang mencerdaskan masyarakat. "Selamat ulang tahun ke-14 IWO. Pemerintah membutuhkan pers sebagai mitra dalam menyampaikan pembangunan sekaligus sebagai bagian dari kontrol sosial," kata Iskandarsyah.
Wakil Bupati Karimun, Rocky Marciano Bawole, menyoroti tantangan jurnalisme digital yang bergerak cepat. Ia mengingatkan agar kecepatan publikasi tidak mengalahkan ketepatan dan akurasi data di lapangan.
"Di era informasi yang bergerak sangat cepat, jangan sampai kecepatan mengalahkan ketepatan. Wartawan harus tetap melakukan verifikasi, menjaga keberimbangan dan menjunjung tinggi integritas," tegas Rocky.
Ia menilai IWO sejauh ini telah menjadi wadah peningkatan profesionalisme wartawan sekaligus mitra strategis dalam mengawal pembangunan di Karimun.
IWO didirikan pada 8 Agustus 2012 di Jakarta oleh 22 wartawan media online. Memasuki usia ke-14, organisasi ini terus membawa semangat kebebasan pers yang profesional dan bertanggung jawab.
Prinsip independensi, demokrasi, keterbukaan, serta kepatuhan terhadap etika jurnalistik menjadi fondasi organisasi dalam menjalankan peran. Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya disinformasi, keberadaan pers profesional yang berpegang pada fakta menjadi semakin krusial.
Kualitas jurnalistik kini tidak lagi hanya diukur dari seberapa cepat berita dipublikasikan, tetapi seberapa kuat berita tersebut berdiri di atas fakta, etika, dan kepentingan publik.